Japanese Translation

Suatu karya tulis bahasa asing tidak akan dapat kita nikmati apabila kita tidak menguasai bahasa asing tersebut kecuali bila karya tulis ini dialihbahasakan kedalam bahasa yang kita kuasai. Dalam hal ini kegiatan penerjemahan/translation menduduki peranan yang sangat penting.

Disamping itu penerjemahan/translation perlu juga memperhatikan faktor sejarah, ideologi, sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain yang mempengaruhi perkembangan suatu bahasa.

Sesuai dengan pembahasan diatas, maka maksud dan tujuan Mirai College adalah :

  • Menjembatani proses penerjemahan Jepang-Indonesia untuk mengembangkan kebudayaan, memanfaatkan ilmu pengetahuan serta teknologi.
  • Memperoleh hasil terjemahan Jepang-Indonesia yang wajar dan berkesan sama seperti saat membaca dalam bahasa sumber sehingga tidak menyimpang atau merubah isi makna yang diterjemahkan.

Analisis Penerjemahan Pada Novel Shiosai Karya Yukio Mishima :

Minato e kaette, kumi no fune ni gyokaku o utsushite, hama e fune o hikiagete

kara, todaichô no uchi o motte yuku hirame o te ni sagete, wakamono ga uchi e

hitomazu kaerou toshite hama zutai ni kiita toki ni, kurekaketa hama wa, mada

oku no gyosen o hama e hikigaeru kake goe de sawagashita.

Terjemahan :

“ Sekembali di pangkalan, merekapun memindahkan hasil tangkapan mereka ke atas perahu koperasi, kemudian membawa perahunya sendiri ke pantai. Kemudian si anak itupun berangkatlah pulang, sambil membawa ikan balibut ia menuju kearah mercu suar itu dengan segera. Waktu ia berjalan menyusuri pantai, kala senja itu masih hiruk pikuk dengan teriakan para nelayan yang mendorong perahunya ke atas pasir. “ ( Senandung Ombak :12 )

Pada kalimat diatas terdapat dua buah fukugôdôshi yaitu gabungan dua buah verba yang saling mengikat dan membentuk verba baru, fukugôdôshi hikiageru yang pertama diterjemahkan menjadi membawa, sedangkan yang kedua diterjemahkan menjadi mendorong. Fukugôdôshi hikiageru merupakan gabungan dari verba hiku dan verba ageru.

Menurut Kamus Pemakaian Bahasa Jepang Dasar, verba hiku memiliki arti menarik atau maju dengan menggusur di atas tanah atau lantai atau juga menggerakkannya seperti itu, sedangkan verba ageru memiliki arti mengangkat atau menaikkan. Verba ageru pada fukugôdôshi dalam kalimat di atas menyatakan suatu perpindahan secara ruang yang berarti perpindahan dari arah bawah kearah atas secara konkrit yakni dari laut ke darat (pantai).

Menurut Kamus Bahasa Jepang-Indonesia, Kenji Matsura, hikiageru memiliki arti menarik (keatas), dimana verba hiku memberi pengertian cara (tambahan makna) kepada verba ageru. Sementara arti dari kata menarik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah menghela (supaya dekat, maju, keatas, keluar dan sebagainya), sehingga berbeda artinya dengan kata membawa atau kata mendorong pada teks terjemahannya. Kata membawa berarti memegang atau mengangkat sesuatu sambil berjalan dari satu tempat ke tempat lain, sedangkan mendorong berarti menolak dari bagian belakang atau bagian depan.

Oleh karena itu fukugôdôshi hikiageru diatas sebaiknya diterjemahkan menjadi menarik, karena lebih sesuai dengan arti dari verba utamanya, sehingga ide ataupun makna yang hendak disampaikan ke dalam bahasa sasaran dapat lebih mendekati bahasa sumbernya. Selain itu pada konteks kalimat diatas digambarkan bagaimana suasana hiruk pikuk pantai di senja hari, saat Shinji seperti biasa berjalan menyusurinya menuju mercu suar dengan membawa beberapa ekor ikan untuk penjaga mercu suar. Di sana secara sekilas ia melihat para nelayan yang tengah sibuk menaikkan perahunya ke atas pantai dengan menariknya (mengusurnya), setelah seharian penuh dipergunakan untuk mencari ikan.

Dengan demikian penerjemahan kalimat di atas sebaiknya menjadi :

“ Sekembali di pangkalan, merekapun memindahkan hasil tangkapan mereka ke atas perahu koperasi, kemudian menarik perahunya sendiri ke pantai. Kemudian si anak itupun berangkatlah pulang, sambil membawa ikan balibut ia menuju ke arah mercu suar itu dengan segera. Waktu ia berjalan menyusuri pantai, kala senja itu masih hiruk pikuk dengan teriakan para nelayan yang menarik perahunya ke atas pasir. “

Leave a Reply