Summer Festival

Festival Musim Panas

By: Arief

Memasuki bulan Agustus, orang Jepang mulai bepergian untuk menyegarkan diri lahir dan batin. Caranya ada bermacam-macam, misalnya ada yang bepergian untuk berenang di laut, yang mengunjungi daerah sejuk, pulang ke kampung halaman dengan menggunakan cuti panjang, atau berwisata ke luar negeri.

Bulan Agustus di mana hari-hari yang sangat panas dengan temperatur tertinggi 35 derajat lebih pun terus berlanjut, ketika memasuki risshu (memasuki musim gugur sekitar tgl 7), udara mulai sejuk sedikit demi sedikit, dan kita mulai merasakan tibanya suasana musim gugur.

Pada saat-saat ini, di mana-mana diselenggarakan festival musim panas, yang ada hubungannya dengan penyambutan perayaan obon (upacara ritual agama Budha) di kebanyakan daerah. Agar arwah leluhur dapat kembali ke alam baka dengan selamat, maka dipasang api pengantar, mengalirkan kapal-kapalan lentera di sungai atau laut, menarikan tarian Bon, memasang kembang api dsb.

Semuanya ini merupakan kegiatan yang selalu ada dalam festival musim panas. Pada hari festival musim panas ini, para wanita di Jepang memakai yukata (kimono yang terbuat dari katun) mungkin juga merupakan suatu yang menambah kegembiraan perayaan festival di musim panas.

Summer in Japan

Musim Panas Di Jepang

By: Arief

Di Jepang, begitu musim hujan selesai, datanglah musim panas yang sebenarnya. Inilah musim di mana matahari bersinar terik membakar kulit di mana kata-kata yang sering terdengar adalah ; panas, panas terik, panas menyengat, sangat panas.

Meskipun dalam perhitungan kalender, musim panas di Jepang dimulai dari bulan Juni. Setelah musim hujan berakhir, yaitu sekitar pertengahan Juli, tekanan udara tinggi dari Lautan Pasifik tiba-tiba menjadi kuatĀ  yang menyebabkan panas yang menyengat sampai bulan Agustus.

Untuk mengatasi rasa panas tersebut, orang-orang Jepang zaman dahulu mencari kesejukan dengan menggerai sudare (tirai bambu) di jendela, menggantung furin (sejenis lonceng) yang dentingannya membawa kesejukan, mengipas tubuh dengan uchiwa, duduk di goza (bantal jerami) atau to-isu (kursi rotan), sambil makan mie dingin seperti somen dan hiyamugi.

Di kota-kota besar di Jepang, banyak hari-hari yang temperaturnya melebihi 35 derajat Celcius, menimbulkan gejala Heat Island. Dalam kondisi tersebut orang-orang Jepang berusaha untuk mengatasinya dengan pengetahuan yang ada sejak dahulu.

Semakin banyak orang Jepang yang berusaha hidup dengan ramah lingkungan, sebagai rasa tanggung jawab agar peningkatan temperatur di kota dapat dikendalikan.